Nama Candi Borobudur mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, Iya, candi Buddha terbesar di abad ke-9 ini memang sangat terkenal di Indonesia. Kemegahan candi ini membuat setiap orang ingin berkunjung ke salah satu candi yang masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia ini.
Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno. Candi ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa dengan bentuk bangunan punden berundak-undak yang terdiri dari 10 tingkat.
Konon, setiap tingkatan pada bangunan candi ini melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Buddha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Buddha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bila berkunjung ke candi ini, maka kita akan menyaksikan relief-relief indah dan membayangkan betapa mahir pembuatnya memperhatikan setiap detail bentuk candi yang terletak di Kota Magelang ini.
Ada satu keunikan dari Candi Borobudur ini. Bila kita berjalan searah jarum jam maka pada relief Borobudur akan bercerita tentang kisah yang sangat melegenda yakni Ramayana.
Candi ini memang mampu membuat siapa saja yang melihatnya berdecak kagum. Selain bentuk arsitekturnya yang indah, keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran Sang Buddha. Tidak mengherankan jika UNESCO mencatat candi Borobudur sebagai daftar peninggalan sejarah dunia (World Wonder Heritages).
Sebagian besar literatur di Indonesia menyebut Candi Borobudur adalah bagian dari tujuh keajaiban dunia. Namun, mengapa New Open World Corporation (NOWC) justru tidak memasukkan Borobudur dalam daftarnya?
Kalau mau dirunut lagi, sebenarnya Borobudur tidak pernah menjadi bagian dari tujuh keajaiban dunia versi Antipater Sidon yang paling populer. Sidon membagi daftar tersebut menjadi Piramida Giza, Taman Gantung Babilonia, Patung Zeus di Olimpia, Kuil Artemis di Turki, Mausoleum, Colossus, dan Mercusuar Iskandariah.
Yang benar, Borobudur adalah bagian dari World Heritage List yang dikeluarkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), badan PBB yang salah satu tujuannya adalah mempromosikan dan mengamankan keragaman dan warisan budaya dunia. Direktur Utama Taman Wisata Borobudur Wagiman Subiarso berpendapat, hingga saat ini Candi Borobudur masih berada pada daftar yang dikeluarkan oleh UNESCO itu.
”Polling yang dirilis NOWC itu sebenarnya sangat subjektif, tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Karena, hasilnya hanya dinilai dan bergantung dari siapa yang menggelar polling,” ujar Wagiman. ”Dalam hal ini, daftar pihak berwenang (UNESCO)-lah yang seharusnya dirujuk,” ujar Wagiman.
Hingga kini, Candi Borobudur masih berdiri tegak dan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia. Candi yang dibangun abad kedelapan masa Dinasti Syailendra ini menjadi inspirasi pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Umat Buddha juga tetap menggunakannya untuk perayaan keagamaan, seperti peringatan Waisak.
”Dalam satu hari, rata-rata pengunjung Borobudur dari luar negeri sebanyak 300–350 orang. Bahkan, di musim liburan seperti sekarang bisa meningkat hingga 28 ribu orang,” tambah Wagiman.

0 komentar:
Posting Komentar