Sabtu, 27 September 2014

G30SPKI

03.55

“Pantaskah Soeharto
Diampuni?”, Ada seorang ahli sejarah yang
sempat meneliti tentang kejadian yang menimpa
bangsa kita di tahun 1965, mengatakan bahwa di
tahun 1965, di Indonesia hanya ada satu Jendral
dan dia adalah Mayjen TNI Soeharto. Menurut
ahli sejarah itu juga termakan image yang
sengaja dibuat Soeharto bahwa dia adalah orang
yang paling berjasa atas dibubarkannya Partai
yang kini dianggap sebagai partai terlarang di
negeri kita.
Soeharto adalah seorang prajurit TNI berpangkat
cukup tinggi dan juga memegang salah satu
jabatan penting dalam jajaran TNI sebagai
Panglima Komando Strategi Angkatan Darat
(Kostrad). Pada masa kepemimpinan Ir.
Soekarno, Soeharto adalah seorang perwira
tinggi yang tidak terlalu diperhitungkan. Itu juga
menjadi penyebab tidak terteranya nama
Soeharto dalam daftar 7 jendral yang menjadi
target pembunuhan dalam pemberontakan PKI.
7 Jendral yang menjadi target operasi PKI:
Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI
Anumerta MT Haryono, Letjen TNI Anumerta S
Parman, Letjen TNI Anumerta Suprapto, Mayjen
TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen TNI
Anumerta DI Panjaitan, Kapten Czi Anumerta
Pierre Tendean
Apa mungkin Soekarno lupa pada jasa Soeharto
yang menjadi arsitek Serangan Umum 1 Maret
atas Kota Yogya yang berhasil menguasai Kota
Yogya selama 6 jam yang kala itu dikuasai oleh
Belanda? Ataukah Soekarno mengetahui fakta
yang sebenarnya terjadi.
Pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30
September 1965, sebuah pemberontakan terjadi
atas keutuhan Pancasila (itu kata rezim Orde
Baru) namun berhasil ditumpas sampai ke akar-
akarnya oleh seorang perwira tinggi bernama
Soeharto.
“Resolusi Dewan Jendral” yang sempat beberapa
kali disebutkan dalam film tersebut, hal itu benar
adanya. Resolusi Dewan Jendral memang ada.
Beberapa orang Jendral pada saat itu sedang
merencanakan untuk menggulingkan kekuasaan
Soekarno dan mengambil alih kekuasaan.
Para pemimpin PKI kala itu cukup resah dengan
adanya isu tentang resolusi Dewan Jendral.
Mereka khawatir jika para jendral berhasil, maka
posisi mereka berada di ujung tanduk. Untuk itu
mereka harus bergerak cepat, berpacu dengan
waktu untuk menumpas para jendral yang
terlibat dalam Resolusi Dewan Jendral, sebelum
para jedral mendahuluinya.
Rakyat yang kala itu masih bodoh dicekoki
dengan pernyataan-pernyataan pedas tentang
seberapa menyeramkan dan menyakitkannya
sebuah pemberontakan. PKI terus menyebarkan
doktrin bahwa pemberontakan itu identik dengan
kekejaman. Rakyat akan semakin terkepung
dalam kesengsaraan. Doktrin yang dilontarkan
PKI itu terhadap rakyat itu pada akhirnya
berhasil membakar darah rakyat yang kala itu
tengah dirundung duka yang mendalam dan
berkepanjangan akibat dari ketidak stabilan
perekonomian di sebuah negara yang masih
muda ini. Akhirnya PKI mendapat restu dari
rakyat yang telah didoktrinnya untuk menumpas
para jendral yang terlibat dalam Resolusi Dewan
Jendral.
PKI sendiri mempunyai kepentingan dalam
penumpasan ini. PKI adalah pendukung terkuat
Soekarno, dan Soekarno adalah pendukung
terkuat PKI demi sebuah image bagi dunia
internasional bahwa Indonesia tidak mudah
dimasuki pengaruh Amerika Serikat. Memang
Sokarno lebih menyukai politik sosialis
demokratik seperti yang diajarkan Uni Soviet
kepada dunia kala itu yaitu pemerataan.
Karena PKI takut kehilangan dukungan dari
presiden, maka PKI harus secepatnya menumpas
Dewan Jendral sebelum Dewan Jendral
menggulingkan Soekarno. Maka direncanakanlah
sebuah aksi untuk menumpas Dewan Jendral.
Akhirnya para pemimpin PKI sepakat tanggal
yang tepat untuk melakukan aksi adalah pada
tanggal 30 September.
Para pimimpin PKI melakukan rapat tentang aksi
yang bakal mereka lakukan. Sedikitpun mereka
tidak menyinggung nama Soeharto karena
memang Soeharto kala itu bukan siapa-siapa.
Dia tidak lain hanyalah seorang prajurit TNI
berpangkat tinggi yang tidak diperhitungkan dan
tidak penting sama sekali.
Disisi lain, Soeharto sendiri juga mengetahui
tentang adanya resolusi Dewan Jendral dan
mengetahui bahwa PKI akan melancarkan aksi
untuk menumpasnya. Namun dia hanya diam.
Soeharto juga memiliki kepentingan jika PKI
berhasil. Kepentingan Soeharto sebenarnya
adalah agar dia mulai dianggap penting dan
kembali diperhitungkan di kancah percaturan
negeri ini sehingga dia bisa mendapat jabatan
yang lebih penting dari jabatan yang dia pegang
saat itu. Dia biarkan PKI melakukan aksinya
dengan membunuh para perwira tinggi TNI yang
memang memegang jabatan penting di negara.
Dengan demikian akan semakin berkurang
saingan bagi Soeharto untuk meraih jabatan
yang lebih tinggi dan lebih penting dari sekedar
panglima Kostrad.
Tanggal 30 September pukul 4 pagi, diculiklah 7
jendral yang menjadi target operasi PKI. Mereka
dibawa ke lubang buaya dan diserahkan kepada
masa pendukung PKI yang telah berkumpul di
sana sejak sore hari tanggal 29 September untuk
diadili dengan cara mereka. Massa dibebaskan
melakukan apa saja sesuka hati mereka kepada
para jendral yang akan menambah kesengsaraan
bagi rakyat tersebut. Massa yang berkumpul di
lubang buaya berpesta pora sebelum akhirnya
menyiksa hingga mati para jendral tersebut.
Fakta Dibalik G30S/PKI:
Pagi harinya, Soeharto yang telah mengetahui
hal ini mendapat laporan dari beberapa ajudan
jendral yang telah diculik. Soeharto hanya
tersenyum dalam hati karena telah mengetahui
bahwa semua ini akan terjadi. Ambisinya untuk
menguasai negeri dengan pangkat dan jabatan
yang dia miliki hanya tinggal selangkah lagi.
Tahukah anda apa sebenarnya yang telah
direncanakan Soeharto sebelumnya yang
disimpannya baik-baik dalam benaknya? Dia
biarkan PKI membunuh ketujuh Jendral tersebut,
lalu memfitnah PKI telah melakukan kudeta
terhadap Soekarno sehingga orang-orang PKI
yang mengetahui fakta sejarah dapat dengan
mudah disingkirkan dengan cara difitnah. Doktrin
yang dilontarkan Soeharto adalah bahwa PKI
akan melakukan pemberontakan terhadap
kekuasaan Soekarno. Mungkinkah PKI akan
menggulingkan pendukung terkuatnya? Tidak
masuk akal. Ingat PKI dan Soekarno saling
mendukung, apa mungkin PKI melakukan hal itu?
Pagi harinya Soeharto bergerak cepat dan
melangkahi tugas beberapa orang jendral
atasannya dengan memegang tampuk pimpinan
TNI untuk sementara tanpa meminta restu dari
Presiden. Di buku sejarahku waktu SD ditulis,
“Mayjen TNI Soeharto dengan tangkas
memegang tampuk pimpinan TNI yang lowong
sepeninggal A Yani.” Kalau bisa dan boleh aku
ingin mengedit tulisan di buku sejarahku dengan
kata-kata, “dengan lancang Soeharto memegang
tampuk pimpinan TNI.” Masih banyak orang yang
harusnya dimintai restu oleh Soeharto atas
inisiatifnya memegang tampuk pimpinan TNI.
Lalu dengan mudah Soeharto yang telah
mengetahui semua seluk beluk aksi PKI ini
menumpas PKI. Hanya dalam waktu beberapa
jam saja, para pelaku pemberontakan PKI
ditangkap dan sebagian lagi kabarnya melarikan
diri ke luar negeri. Lalu Soeharto menyebarkan
doktrin bahwa PKI telah melakukan kudeta
terhadap kepemimpinan Soekarno. Padahal PKI
bermaksud menggagalkan kudeta yang akan
dilancarkan oleh para jendral tersebut. PKI
dijadikan kambing hitam oleh Soeharto atas apa
yang memang diinginkannya. Satu langkah
Soeharto untuk menguasai negeri ini berhasil.
Penguasaan Kembali Gedung RRI Pusat:
Dini hari tanggal 1 Oktober 1965 Gerakan Tiga
Puluh September (G30S) PKI menculik dan
membunuh 6 orang perwira tinggi Angkatan
Darat yang yang dinilai sebagai penghalang
utama rencana mereka untuk merebut kekuasaan
Negara. Pagi itu pula mereka berhasil menguasai
Gedung RRI dan Gedung Pusat Telekomunikasi.
Di bawah todongan pistol, seorang penyiar RRI
dipaksa menyiarkan pengumuman yang
menyatakan bahwa G-30-S telah
menyelamatkan Negara dari usaha kudeta
“Dewan Jendral”.
Tengah hari mereka mengumumkan
pembentukan Dewan Revolusi sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi dalam negara dan
pendemisioneran kabinet.
Untuk menghentikan pengumuman-pengumuman
yang menyesatkan rakyat itu, Panglima Komando
Tindakan Strategi Angkatan Darat (Kostrad)
Mayjen Soeharto yang telah mengambil alih
sementara pimpinan Angkatan Darat
memerintahkan pasukan Resimen Para Komando
Angkatan Darat (RPKAD) untuk membebaskan
Gedung RRI Pusata dan Gedung Telekomunikasi
dari penguasaan G-30-S PKI. Operasi yang
dimulai pukul 18.30, dengan mengerahkan
kekuatan satu kompi dalam waktu hanya 20
menit, RPKAD berhasil menguasai kembali
gedung vital itu.
Pukul 20.00 tanggal 1 Oktober 1965 RRI Pusat
sudah dapat menyiarkan pidato radio Mayjen
Soeharto yang menjelaskan adanya usaha kudeta
yang dilakukan oleh PKI melalui G-30-S
Penangkapan DN Aidit 22 November 1965:
Setelah G 30 S PKI mengalami kegagalan di
Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1965 tengah
malam ketua CC PKI D.N. Aidit melarikan diri ke
Jawa Tengah yang merupakan basis utama PKI.
Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta,
kemudian berpindah-pindah tempat dari
Yogyakarta ke Semarang. Selanjutnya ia ke Solo
untuk menghindari operasi pengejaran yang
dilakukan oleh RPKAD. Tempat
persembunyiannya yang terakhir di sebuah
rumah di kampung Sambeng Gede. Daerah ini
merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api
(SBKA), organisasi massa yang bernaung
dibawah PKI. Melalui operasi intelijen, tempat
persembunyian D.N. Aidit dapat diketahui oleh
ABRI.
Tengah malam tanggal 22 November 1965 pukul
01.30 rumah tersebut digrebek dan digeledah
oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa
Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan
hampir gagal ketika pemilik rumah mengatakan
bahwa D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya.
Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper
menemukan sandal yang masih baru, koper dan
radio yang menandakan hadirnya seseorang
yang lain di dalam rumah itu. Penggeledahan
dilanjutkan. Dua orang Pekuper menemukan D.N.
Aidit yang bersembunyi di balik lemari. Ia
langsung ditangkap dan kemudian dibawa ke
Markas Pekuper Surakarta di Loji Gandrung,
Solo.
Supersemar:
Suasana negara saat itu benar-benar
memburuk. Negara yang masih muda ini serasa
berasa di titik paling bawah dari
keterpurukannya. Perekonomian anjlok, harga
bahan pangan menjulang, bahan pangan susah
didapat dimana-mana, kerusuhan pecah di
seluruh wilayah negeri ini. Beberapa elemen
masyarakat melakukan aksi yang berbuntut
dengan dicetuskannya Tritura (Tri Tuntutan
Rakyat). Isi Tritura adalah:
1. Bubarkan PKI
2. Turunkan Harga
3. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur G 30 S
PKI
Aksi beberapa elemen masyarakat ini di awali
dengan aksi yang digelar oleh mahasiswa yang
menamakan dirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia (KAMI). Gerakan mahasiswa ini juga
diikuti oleh elemen masyarakat lain seperti
Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), Kesatuan
Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dan lain-
lain.Aksi-aksi inilah yang kemudian memicu
pecahnya revolusi di negara ini. Semakin lama
situasi negara semakin memburuk.
Situasi ini akhirnya yang memaksa tiga orang
Jendral yaitu Letjen (yang baru naik pangkatnya)
Soeharto, Brigjen Amir Machmud dan Brigjen M
Yusuf untuk menemui presiden dan memaksa
presiden agar segera memenuhi tuntutan rakyat.
Tritura harus dipenuhi jika presiden ingin
mengembalikan situasi negara ke arah yang
kondusif.
Soekarno menolak memenuhi tuntutan rakyat.
Soekarno tahu bahwa ini semua hanya kerjaan
Soeharto yang memfitnah PKI sebagai
pemberontak. Soekarno tahu betul, tidak
mungkin PKI berkeinginan untuk
menggulingkannya namun Soekarno tidak
memiliki bukti yang otentik atas pernyataannya
tersebut. Soekarno tahu bahwa aksi yang
dilakukan oleh PKI dengan nama G 30 S PKI
hanya bertujuan untuk menumpas rencana
kudeta militer yang akan dilakukan oleh
sekelompok perwira tinggi yang menamakan
dirinya Dewan Jendral.
Setelah gagal untuk memaksa presiden
memenuhi tuntutan rakyat, ketiga jendral
tersebut berinisiatif membuat sebuah surat
perintah atas nama presiden. Isi surat perintah
yang diberi nama Surat Perintah Sebelas Maret
(Supersemar) hingga kini hanya diketahui oleh
hanya 4 orang, ketiga jendral tersebut dan
Soekarno, namun karena tiga diantaranya kini
telah meninggal dunia, maka kini hanya
tertinggal satu lagi saksi sejarah yaitu Soeharto.
Sayang, Soeharto pun tidak ingin rakyat
Indonesia tahu apa isinya, maka dia lenyapkan
supersemar yang asli dan buat sebuah surat
perintah yang palsu seperti yang kita tahu
belakangan ini.
Teks Supersemar yang palsu, sedangkan yang
asli, hingga kini tidak ditemukan bangkainya
Supersemar yang telah rampung dibuat
diserahkan kepada Soekarno untuk
ditandatangani, namun Soekarno menolak untuk
menandatanganinya. Soekarno tidak mau
membubarkan PKI namun juga tidak mempunyai
alasan yang kuat atas kehendaknya tidak ingin
membubarkan PKI. Sementara rakyat telah
didoktrin oleh Soeharto bahwa PKI telah
melakukan pengkhiatan terhadap negara dan
ingin menguasai negara ini dan menjadikannya
negara berfaham Komunis.
Menurut pengakuan dari seorang kakek tua tak
lama setelah Soeharto lengser, bahwa dulu ia
bekerja di Istana Merdeka. Tugasnya adalah
mengantarkan minuman buat presiden. Pada
saat ketiga jenderal itu sedang berada di ruang
kerja presiden, sang kakek memasuki ruangan
dengan maksud ingin mengantarkan minuman
bagi presiden dan ketiga tamunya. Terkejutlah ia
saat melihat presiden sedang menandatangani
sebuah surat yang diyakininya sebagai
supersemar di bawah todongan Pistol.
Pada saat sang kakek mengungkapkan kisah ini,
Jendral M Yusuf masih hidup, maka ia
diwawancarai oleh kru TV sehubungan dengan
pernyataan sang kakek. Karena M Yusuf berada
pada posisi netral maka ia yang diwawancarai.
Tapi sayang, saya sangat yakin bahwa fakta
yang diungkapkan sang kekek benar adanya, tapi
demi menyelamatkan sejarah yang sudah
terputar balik dan tak mungkin diubah lagi, maka
Jenderal M Yusuf membantah bahwa presiden
menandatangani supersemar di bawah todongan
pistol. Tapi saya yakin dan sangat percaya,
Jendral M Yusuf yang kala itu sudah pensiun
membantah hal itu karena ia sadar, jika ia
bongkar rahasia ini, maka terbongkarlah semua
fakta sejarah dan Indonesia kembali terombang
ambing dalam keraguan. Mana yang benar?
Sejarah versi Soeharto atau M Yusuf.
Akhirnya supersemar ditandatangani oleh
Soekarno, namun supersemar tidak ditujukan
kepada Soeharto. Hal ini membuat Soeharto
panas, entah dengan cara apa, Soeharto berhasil
melenyapkan surat itu dan membuat pernyataan
palsu dengan mengatakan bahwa supersemar
ditujukan kepadanya untuk memegang tampuk
pimpinan TNI untuk sementara dan
mengembalikan stabilitas nasional.
Dua langkah Soeharto berhasil. Maka
berpedoman pada surat perintah palsu yang
dibuat oleh Soeharto sendiri, ia mulai bergerak
dan membubarkan PKI serta antek-anteknya.
Sebagian besar masa pendukung PKI, Gerwani
dan berbagai organisasi massa lain bentukan PKI
dibantai secara masal, sebagian lagi dipenjara.
Ini dilakukan untuk menghilangkan jejak sejarah
agar semua kebusukan yang dilakukan oleh
Soeharto tidak terungkap. PKI dijadikan kambing
hitam karena memang PKI pernah melakukan
percobaan kudeta di tahun 1948. Ini dijadikan
alasan bagi Soeharto untuk semakin
menjatuhkan PKI.
Setelah PKI dibubarkan, dengan wewenang
palsunya Soeharto menyatakan bahwa PKI
adalah Partai terlarang di Indonesia karena
bertentangan dengan Pancasila yang merupakan
ideologi bangsa Indonesia.
Pidato pertanggungjawaban Soekarno dalam
Sidang Umum MPRS tahun 1968 ditolak oleh
MPRS. Semua dipicu dari lambatnya Soekarno
membubarkan PKI dan menjawab Tritura.
Setelah itu dipilihlah seorang penjabat presiden
hingga masa kepemimpinan Soekarno berakhir.
Pada saat itu memang tak ada pilihan lain,
Soeharto menjadi satu-satunya orang yang
paling pantas memegang jabatan itu. Soekarno
(mungkin dengan berat hati) menyerahkan
kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto. Sejak
saat itu Soeharto resmi memegang jabatan
sebagai Presiden RI melaui TAP MPRS No XLIV/
MPRS/1968 dan berkuasa selama 32 tahun
hingga akhirnya digulingkan juga dengan cara
yang sama seperti ia berusaha menggulingkan
Soekarno pada tahun 1968.

sumber : http://terungkaplagi.blogspot.nl/2013/08/sejarah-sebenarnya-peristiwa-g30spki.html?m=1

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 AULIA LAILY. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top